Ads 468x60px

...
Tampilkan postingan dengan label Piqih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Piqih. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juli 2014

Lailatul Qodar

Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al-Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur'an.

Etimologi

Menurut Quraish Shihab, kata Qadar (قﺩﺭ) sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur'an dapat memiliki tiga arti yakni [1]:
  1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad-Dukhan ayat 3-5 : Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami
  2. Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada surat Al-An'am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat
  3. Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra'd ayat 26: Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)
Lailatul Qadar dapat juga kita artikan sebagai malam pelimpahan keutamaan yang dijanjikan oleh Allah kepada umat islam yang berkehendak untuk mendapatkan bagian dari pelimpahan keutamaan itu. Keutamaan ini berdasarkan nilai Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Keistimewaan

Dalam Al Qur'an, tepatnya Surat Al Qadar malam ini dikatakan memiliki nilai lebih baik dari seribu, bulan .97:1 Pada malam ini juga dikisahkan Al Qur'an diturunkan, seperti dikisahkan pada surat Ad Dukhan ayat 3-6. 44:3 

Waktu

Terdapat pendapat yang mengatakan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadan, hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah yang mengatakan : " Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dan beliau bersabda, yang artinya: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon" " (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169). Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Lailatul Qadar kemungkinan akan "diwujudkan" oleh Allah pada malam ganjil, tetapi mengingat umat islam memulai awal puasa pada hari atau tanggal yang berbeda, maka umat islam yang menghendaki untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar dapat "mencarinya" setiap malam. Agar kita yang menghendaki "mendapatkan" Lailatul Qadar, maka berbuka puasalah "sekedarnya" saja agar badan tidak "menjadi berat" dan malas serta menjadi sebab ngantuk dan mudah tertidur, sehingga yang kita inginkan untuk mendapatkan Lailatul Qadar tidak membuahkan hasil.

Sumber Info : http://id.wikipedia.org

Minggu, 29 Juni 2014

Hikmah Shoum Romadhon

HIKMAH KEUTAMAAN DAN TARGET IBADAH

SHAUM RAMADHAN MUBAROK

 Oleh, Prof. Dr. KH. Sofyan Sauri, M.Pd
Pembuka Kata

Sabda Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam : “Setiap amal anak Adam kebaikannya akan dilipat gandakan 10 kali lipat sampai 700 kali lipat, dan sampai sekendak Allah. Allah berfirman: kecuali pahala shaum, maka sesungguhnhya shaum itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Seseorang meninggalkan keinginan syahwatnya dan makannya karena-Ku. Bagi yang berpuasa ada dua kegembiraan; satu disaat ia berbuka puasa dan kedua disaat bertemu dengan Rob-nya. Sungguh bau mulut yang sedang berpuasa, lebih harum di sisi Allah dari pada harumnya minyak kasturi (wangi)” (HR Ibnu Majah)

Wajah umat Islam yang beriman terlihat ceria bangga penuh bahagia, tatkala menunaikan ibadah shaum Ramadhan yang penuh rahmat, maghfiroh dan itqu niraan (terbebas dari api neraka). Kegembiraan itu diungkapkann dengan rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan kesempatan panjang umur dapat bertemu kembali dengan bulan yang sangat istimewa. Silaturahmi menjelang dan saat shaum Ramadhan menjadi wujud memperkuat tali hubungan silaturahmi sesama umat Islam dan  lebih dekat lagi dengan sanak keluarga, ucapan kalimat yang manis penuh makna teungkap Marhaban Yaa Ramadhan, dan banyak lagi amalan lainnya dengan penuh pengharapan kepada Allah.

Harapan orang beriman pada bulan ini, adalah ingin shaum hari ini bulan ini dan tahun ini lebih baik dari hari-hari yang lalu, dan hari besok lebih baik dari hari ini. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad Saw,. Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung. Bila hari ini sama dengan hari kemarin, berarti orang merugi dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin adalah orang celaka (Al Hadist).

Upaya yang wajib dilakukan umat Islam yang beriman agar meraih derajat yang beruntung, adalah jadikanlah bulan Ramadhan tahun sekarang ini sebagai bulan latihan, pembinaan, tolabul ilmi, belajar, silaturahmi, sodaqoh, amal saleh, dsb.,  Nabi kita Muhammad saw, memerintahkan kepada umatnya agar umat ini memiliki profesi dalam kehidupannya, yakni “Kun aliman, mutaalliman, au mustamian au muhibban wala takun khosmisan fatahlik. Artinya  jadilah kamu guru (orang yang berilmu), murid (orang yang butuh ilmu), pendengar yang baik, dan cinta ilmu, dan jangan menjadi yang kelima yakni tidak berilmu, tidak menajadi murid, tidak menjadi pendengar yang baik, tidak mencintai ilmu, dan itu adalah celaka.


Pokok Bahasan

Hikmah diwajibkannya Shaum Ramadhan adalah :
  1. Tajdidul iman wataqwiyatuhu (menyegarkan kembali keimanan dan menguatkannya). Dengan menjalankan ibadah shaum Ramadhan  insyaallah keimanan akan segar dan juga dikuatkan oleh Allah swt. Nabi Muhammad SAW bersabda Sesungguhnya iman dalam hati kadang lapuk seperti lapuknya pakaian maka segarkanlah iman kamu sekalian.
  2. Tahdzibu an nafsi (melatih mengendalikan nafsu). Nafsu merupakan dorongan dari dalam diri yang sangat berpengaruh kepada perbuatan sehari-hari. melakukan pekerjaannya yang baik, atau yang buruk. Menurut ulama mutaqoddimiin bahwa ada tiga pengelompokkan nafsu, yakni nafsu lawwamah (labil), nafsu ammarah bissui (jahat) dan nafsu  muthmainnah (tenang)
  3. Talyinul masyair (memperhalus perasaan). Seorang mukmin bersaum dengan berupaya meninggalkan yang membatalkan dan mengurangi pahala shaum. Menahan tidak makan tidak minum dan tidak  hubungan seksual suami istri saat shaum, sambil menahan tidak membicarakan kejeleken orang lain, memfitnah, gibah, seharusnya tangan,  kaki, mata, telinga shaum dst. Dengan menghidari hal-hal yang merusak pahala shaum. Amalan ini hanya dapat diikuti oleh orang yang benar-benar menunaikan ibadah shaum dengan landasannya iman dan sepenuhnya mengharapkan keridoan Allah. Saat lapar ingat kepada fakir miskin yang makannya sangat-sangat terbatas. Shaum merupakan ibadah yang dapat memiliki perasaan halus, penuh kasih sayang dan perhatian kepada anak-anak yatim, fakir miskin.
  4. Kasru asysyahwati (menekan arus syahwat). Nafsu birahi sangat mungkin muncul pada setiap manusia. Dorongan seksual pada manusia itu kuat sekali. Ada ulama mutaqoddimiin menggambarkan betapa bahayanya nafsu seksual manusia. Nafsu birahi yang tidak  terkendali dapat menjadikan seseorang terjerumus kepada prostitusi dan pelecehan seksual yang kadang membuat rumah tangga hancur berantakan. Ibadah shaum Ramadhon insyaallah akan dapat menekan nafsu birahi.

Keutamaan shaum Ramadhan adalah:
  1. Diampuninya dosa. Nabi Muhammad saw, bersabda “Barang siapa bershaum Ramadhan atas dasar keimanan dan karena Allah, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu” (HR. Bukhori). Alangkah beruntungnya orang berpuasa dasarnya iman, yakni menunaikan ibadah shaum itu karena percaya, yakin  seyakin-yakinnya bahwa ibadah ini perintah dari Allah yang penuh kasih dan sayang. Saat menjalankannya selalu merasa dilihat, ditatap, diperhatikan oleh Robbnya, segala ucapannya perbuatannya dan tindakkannya berupaya untuk sesuai dengan uswah Nabi Muhammad saw penuh pengharapan ridha Allah swt.
  2. Dikabulkannya do’a. dalam hal ini Nabi Muhammad saw, bersabda “Ada tiga golongan manusia yang tidak akan ditolak do’anya, yaitu imamun a’dilun (pemimpin yang adil atau bijaksana) baik pemimpin di rumah tangga, seperti suami, istri, dan diluar rumah tangga dikantor swasta atau pemerintahan dsb. Yang bershaum sampai ia buka, dan doa’nya yang di dzolimi (HR Ibnu Majah)
  3. Dilipatgandakan pahala kebaikannya. Nabi Muhammad saw. Bersabda “Setiap amal anak Adam kebaikannya akan dilipat gandakan 10 kali lipat sampai 700 kali lipat, sampai sekehendak Allah swt. Allah berfirman kecuali pahala shaum, maka sesungguhnya shaum itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Sesorang meninggalkan syahwatnya dan makannya karena-Ku. Bagi yang berpuasa ada dua kegembiraan; satu saat ia berbuka shaum dan disaat bertemu Robb-nya. Sungguh bau mulut yang sedang berpuasa, lebih harum di sisi Allah dari pada harumnya minyak kesturi (wangi) (HR Ibnu Majah).
  4. Mencapai derajat Taqwa. Adapun yang menjadi target dalam menjalankan ibadah Shaum Ramadhan adalah la’allakum tattaquun (agar kamu menjadi orang yang bertaqwa). Adapun ciri orang bertaqwa orang yang selalu hati-hati dalam  qaulun (ucapan),  fi’lun  (perbuatan) dan takrirun (tindakannya). Hasan Al Basyri pernah mengungkapkan bahwa ciri orang muttaqin adalah “Teguh dalam keyakinan, tekun dalam menuntut ilmu, semakin berilmu semakin merendah, semakin berkuasa semakin bijaksana, tampak wibawanya di depan umum, jelas syukurnya dikala beruntung, qonaah dalam pembagian rizqi, senantiasa berhias walaupun miskin, selalu cermat, tidak boros walaupun kaya, murah hati dan murah tangan, disiplin dalam tugasnya, tinggi dedikasinya, serta terpelihara identitasnya, tidak menuntut yang bukan haknya dan menahan hak orang lain, kalau ditegur ia menyesal, kalau bersalah ia istighfar, bila dimaki ia tersenyum sambil berkata, jika makian anda benar, maka aku bermohon semoga Tuhan mengampuniku, dan jika makian anda keliru, maka aku bermohon semoga Tuhan mengampunimu.  Dan masih banyak ciri muttaqiin pada ayat suci Al Quran dan hadits nabi, semoga dapat meraihnya.
Penutup Kata

Demikian Hikmah Shoum Romadhon dan keutamaan Shoum Romadhon. Semoga kita dapat mencapai derajat Taqwa. Amin Ya Robbal Alamin. Tulisan ini dibuat pada tanggal 2 Romadhon 1435 Hijriah.


Keutamaan Ibadah Shoum Romadhon

Pembuka Kata

Ibadah Shoum merupakan bentuk taqarrub kepada Allah yang terpenting di bulan Romadhon. Shoum Romadhon adalah kewajiban seorang muslim kepada Penciptanya, salah satu pilar keislamannya yang harus ditegakkan. Karena ibadah ini adalah Allah mengistimewakan bulan Romadhon dari sebelas bulan yang lainnya. Ibadah yang sangat penting ini memiliki banyak sekali keutamaan. Berikut adalah beberapa keutamaan shoum di bulan Romadhon yang penting untuk selalu kita hadirkan ketika kita melaksanakan ibadah yang mulia ini. Mudah-mudahan dengan senantiasa mengingatnya, kita dapat melaksanakan ibadah shoum di bulan Romadhon tahun ini dengan baik.

Allah berfiman: Shaum itu untuk-Ku

Dalam hadis qudsi Allah azza wa jalla berfirman:
“Setiap amal anak Adam untuknya, satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat hingga tujuhratus kali lipat. Kecuali shaum, sesungguhnya ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Orang yang melakukan shaum meninggalkan syahwat, makanan dan minuman karena Aku. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut seorang yang berpuasa lebih wangi disisi Allah daripada wangi misk.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam hadis qudsi ini Allah menyebutkan beberapa keutamaan ibadah shaum:
  1. Allah menisbatkan ibadah shaum kepada diri-Nya, “Sesungguhnya ia adalah untuk-Ku”. Ini berarti Allah mengistimewakan ibadah shaum dari amal-amal shaleh yang lain yang dikerjakan oleh hamba-hamba-Nya. Makna shaum untuk Allah adalah bahwa shaum tidak dikerjakan oleh seorang pun kecuali dengan niat untuk Allah. Ia adalah ibadah yang bersifat rahasia antara Allah dan orang yang berpuasa saja, hingga tidak ada celah bagi orang yang berpuasa untuk riya dalam melakukannya, berbeda dengan ibadah yang lainnya. (Lihat Syarh Suyuthi li An Nasa`i: 4/158, tahqiq Abdul Fattah Abu Ghuddah)
  1. Pahala shaum sangat besar. Karena Allah menyatakan bahwa jika amal selain shaum dilipatgandakan dari sepuluh hingga tujuhratus, maka shaum tidak demikian. Pahala shaum dilipatgandakan menjadi tidak terbatas. Inilah makna dari lafadz, “Aku yang yang akan membalasnya.” Hal ini juga sesuai dengan firman Allah tentang orang-orang yang bersabar, “Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan dibalas dengan pahala yang tidak terhingga.” (QS. Az-Zumar [39]: 10) Karena shaum mengandung nilai kesabaran. (Lihat Hâsyiyah As-Sindi: 4/159)
  1. Orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan. Kebahagiaan yang pertama adalah ketika berbuka. Ia berbahagia karena telah selesai menyempurnakan ibadah shaumnya, atau berbahagia karena dapat makan dan minum, atau berbahagia karena apa yang ia harapkan dari pahala shaum tersebut. Sebagaimana terdapat dalam doa berbuka, “Dzahabadz dzama`u wabtalatil uruuqu wa tsabatal ajru insyaa` Allah.” (Telah hilang dahaga, telah basah kerongkongan dan telah tetap pahala insya Allah). Kebahagiaan yang kedua adalah ketika bertemu dengan Rabbnya seraya mendapatkan pujian dan kemenangan saat bertemu dengan-Nya. (Miyskâtu al Mashâbîh: 6/249)
  1. Bau mulut orang yang berpuasa dinyatakan oleh Allah lebih baik, lebih utama dan lebih wangi dari minyak misk. Karena bau mulut orang yang berpuasa itu muncul karena ketaatan kepada Allah, maka Allah menyukainya.

Pokok Bahasan
 
Menjauhkan dari Api Neraka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
“Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan jauhkan wajahnya dari api neraka sejarak tujuhpuluh tahun perjalanan.” (HR Bukhari Muslim)
Sangat jelas makna hadis ini, bahwa orang yang berpuasa satu hari saja di dalam rangka untuk mentaati Allah, maka ia akan dijauhkan dari azab api neraka sejarak tujuhpuluh tahun perjalan. Jarak yang sangat jauh sekali. Maka bagaimana dengan orang yang melakukannya selama satu bulan penuh?

Shaum adalah Perisai

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada salah seorang sahabatnya Mu’adz bin Jabal:
ألا أَدُلُّكَ على أبوابِ الخير ؟ الصَّومُ جُنَّةٌ ، والصَّدقَةُ تُطْفِئُ الخَطيئَةَ كَما يُطفئُ الماءُ النارَ
“Tidakkah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Shaum itu adalah perisai, dan sedekah dapat memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” (HR Tirmidzi: hadis hasan shahih)
Sebagaimana perisai dapat melindungi seorang prajurit perang dari serangan musuh, shaum pun demikian, ia berfungsi melindungi orang yang berpuasa dari kemaksiatan. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah [2]: 183)
Jika shaum dapat menjadi pelindung dari kemaksiatan di dunia, maka berarti ia menjadi pelindung dari azab api neraka di akhirat. (Jâmi al Ulûm wa al Hikam, Ibnu Rajab)

Mendapat Maghfirah

Shaum di bulan Ramadhan yang kita lakukan dengan dasar iman kepada Allah dan dorongan untuk mengharap pahala dari-Nya akan mengundang ampunan Allah subhanahu wa ta’ala, akan membuat dosa-dosa kita yang telah lalu habis berguguran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang shaum di bulan Ramadhan, dengan iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رَمضان، مُكفِّرات ما بينهن إذا اجتُنِبت الكبائر
“Shalat-shalat lima waktu, jumat ke jumat, Ramdhan ke Ramadhan, adalah penggugur dosa antara semua itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR Muslim)

Menjadi Syafaat pada Hari Kiamat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda:
الصِّيام والقرآن يَشفَعان للعبد يومَ القيامة؛ يقول الصِّيام: أي ربِّ؛ منَعتُه الطعامَ والشهوةَ فشَفِّعني فيه، ويَقول القرآن: منَعتُه النومَ بالليل فشَفِّعني فيه، قال: فيُشَفَّعانِ
 Shiyam dan al Qur`an kelak akan memberi syafa’at untuk seorang hamba pada hari kiamat. Shiyam berkata: Wahai Rabb, aku telah menghalanginya dari makanan dan syahwat, maka izinkanlah aku memberi syafaat untuknya. Al Qur`an juga berkata: Wahai Rabb, aku telah menghalanginya dari tidur pada malam hari, maka izinkanlah aku menjadi syafaat baginya. Maka keduanya memberi syafaat. (HR Ahmad, Hakim dan Baihaqi, Ahmad Syakir berakata, “sanadnya shahih”)

Pintu Surga Al Rayyan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إنَّ في الجنةِ بابًا يُقال له: الريَّان، يَدخُل منه الصائمون يومَ القيامة، لا يَدخُل منه أحدٌ غيرهم، يُقال: أين الصائمون؟ فيَقُومون فيدخلون، فإذا دخلوا أُغلِق فلم يَدخُل منه أحدٌ
“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut al Rayyan. Orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat memasuki (surga) dari pintu tersebut, tidak ada seorang pun selain mereka. Kelak akan ada yang berseru, “dimanakah orang-orang yang berpuasa?” maka mereka bangkit dan masuk. Jika mereka telah masuk, pintu itu akan ditutup dan tidak ada seorang pun yang masuk melaluinya lagi.” (HR Bukhari Muslim)

Penutup Kata

Itulah diantara keutamaan ibadah shoum dari sekian keutamaannya yang sangat banyak. Mudah-mudahan dengan mengenal keutamaan-keutamaannya kita dapat termotivasi untuk senantiasa bersungguh-sungguh melaksanakan salah satu perintah Allah yang mulia ini, sehingga kemudian kita dapat meraih kemuliaan sebagai orang yang bertakwa di bulan Romadhon yang penuh berkah ini. Amin. Wallahu ‘alam wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.

Senin, 16 Juni 2014

Praktek Berwudhu'

Wudhu adalah menggunakan air yang suci dan mensucikan dengan cara yang khusus di empat anggota badan yaitu, wajah, kedua tangan, kepala, dan kedua kaki. Adapun sebab yang mewajibkan wudhu adalah hadats, yaitu apa saja yang mewajibkan wudhu atau mandi, terbagi menjadi dua macam, hadats besar yaitu segala yang mewajibkan mandi dan hadats kecil yaitu semua yang mewajibkan wudhu. 

Adapun dalil_wajibnya_wudhu_adalah_firman_Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,” (Q.S. Al-Maidah:6)
 
Adapun dalil tata cara wudhu secara sempurna adalah hadist riwayat Abdullah bin Zaid tentang tata_cara_wudhu_(terdapat_lafal):

“Kemudian Rasulullah memasukkan tangannya, kemudian berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung dengan satu tangan sebanyak tiga kali.” (Mutafaq ‘alaih).
-Dan dari Humran bahwa Utsman pernah meminta dibawakan air wudhu, maka ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, …kemudian membasuh tangan kanannya sampai ke siku tiga kali, kemudian tangan kirinya seperti itu pula, kemudian mengusap kepalanya, kemudian membasuh kaki kanannya sampai mata kaki tiga kali, kemudian kaki kirinya seperti itu pula, kemudian berkata, “Aku melihat Rasulullah berwudhu seperti wudhuku ini. (Mutafaq alaih).
Dan dari Abdullah bin Zaid bin Ashim dalam tatacara wudhu, ia berkata,
“Dan Rasulullah mengusap kepalanya, menyapukannya ke belakang dan ke depan.” (Mutafaq alaih).
Dan lafal yang lain,

“(Beliau) memulai dari bagian depan kepalanya  sampai  ke tengkuk, kemudian menariknya lagi ke bagian depan tempat semula memulai.”
 
Dan dalam riwayat Ibnu Amr tentang  tata  cara  berwudhu, katanya, “Kemudian   ( Rasulullah ) mengusap kepalanya, dan memasukkan dua jari telunjuknya ke masing-masing telinganya, dan mengusapkan kedua jari jempolnya ke permukaan daun telinganya.” (H.R . Abu Dawud, Nasa`i dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).
 Takaran air dalam berwudhu adalah satu mud (Satu mud sama dengan 1 1/3 liter menurut ukuran orang Hijaz dan 2 liter menurut ukuran orang Irak. (lihat Lisanul Arab Jilid 3 hal 400). Adapun untuk mandi sebanyak satu sha’ sampai lima mud. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas, katanya, “Adalah Rasulullah ketika berwudhu dengan (takaran air sebanyak) satu mud dan mandi (dengan takaran sebanyak) satu sha’ sampai lima mud.” ) (H.R. Muttafaq alaih
A.   Tata cara wudhu yang diajarkan Rosululloh adalah sebagai berikut:
1.     Apabila seorang muslim mau berwudhu atau mandi (wajib / junub), maka hendaknya ia berniat di dalam hatinya. Niat yang dimaksud dalam berwudhu dan mandi (wajib) adalah niat untuk menghilangkan hadats atau untuk menjadikan boleh suatu perbuatan yang diwajibkan bersuci, oleh karenanya amalan-amalan yang dilakukan tanpa niat tidak diterima. Dalilnya_adalah_firman_Allah:
“Dan mereka tidaklah diperintahkan melainkan agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Q.S. Al-Bayyinah:5).
 
Dan_hadits_dari_Umar_bin_al-Khaththab,_bahwa_Rasulullah_bersabda,
“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.”.
Kemudian membaca Basmalah :
( Bismillaah) بِسْمِ اللهِ
sebab Rasulullah  bersabda:
“Tidak sah wudhu orang yang tidak menyebut nama Allah” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan dinilai hasan oleh Al-Albani di dalam kitab Al-Irwa’ (81).  
 Dan apabila ia lupa, maka dia bisa membacanya tatkala dia ingat ketika masih berwudhu, namun apabila dia ingat tatkala selesai berwudhu maka tidaklah mengapa dia tidak membaca basmalah. Adapun dalil gugurnya kewajiban mengucapkan basmalah kalau lupa atau tidak tahu adalah_hadits:
“Dimaafkan untuk umatku, kesalahan dan kelupaan.”
2.   
        Kemudian mencuci kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali . (Lihat Gambar. 1).
3.    Mengambil air dengan telapak tangan kanannya sambil sebagian dimasukkan kedalam mulut ( madhmadhoh ) dan sebagian dimasukkan / di hirup ke dalam hidung ( istinsyaq )  kemudian membuangnya dengan bantuan tangan kirinya ( istintsar ). Tatkala air masih di dalam mulut maka di usahakan air tersebut dikumur-kumur ( Bhs jawa : kemu ), begitu juga dengan yang ada di dalam hidung sehingga kotorannya dapat keluar. (Lihat Gambar.2).
  
4.     Disunnahkan ketika menghirup air di lakukan dengan kuat, kecuali jika dalam keadaan berpuasa maka ia tidak mengeraskannya, karena dikhawatirkan air masuk ke dalam tenggorokan. Rasulullah bersabda:
“Keraskanlah di dalam menghirup air dengan hidung, kecuali jika kamu sedang berpuasa”. ( Riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Albani dalam shahih Abu Dawud (629))
5.      Lalu mencuci muka sebanyak tiga kali. Batas muka adalah dari batas tumbuhnya rambut kepala bagian atas sampai dagu (Gambar 3b), dan mulai dari batas telinga kanan hingga telinga kiri. (Gambar. 3a).
6.     Dan jika rambut yang ada pada muka tipis, maka wajib dicuci hingga pada kulit dasarnya. Tetapi jika tebal maka wajib mencuci bagian atasnya saja, namun disunnahkan mencelah-celahi rambut yang tebal tersebut. Karena Rasulullah selalu mencelah-celahi jenggotnya di saat berwudhu. (Riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al Irwa (92)) (Lihat Gambar. 4)
7.     Kemudian mencuci kedua tangan sampai siku sebanyak tiga kali, karena Allah berfirman :
“dan kedua tanganmu hingga siku”. (Surah Al-Ma’idah : 6).
Cara mencuci tangan adalah dimulai dengan mencuci tangan kanan sampai siku sebanyak tiga kali baru mencuci tangan kiri sampai siku sebanyak tiga kali. ( Lihat Gambar 5).
8.     Kemudian mengusap kepala ( bedakan dengan mencuci / membasuh ) beserta kedua telinga satu kali, dimulai dari bagian depan kepala lalu diusapkan ke belakang kepala lalu mengembalikannya ke depan kepala. (Lihat Gambar. 6).
9.    Setelah itu langsung mengusap kedua telinga dengan air yang tersisa pada tangannya. Cara mengusap telinga adalah dengan memasukkan jari telunjuk pada lubang telinga sedang ibu jari mengusap bagian luar daun telinga. Perbuatan ini dilakukan sebanyak satu kali saja. (Lihat Gambar. 7).
1      Lalu mencuci kedua kaki sampai kedua mata kaki sebanyak tiga kali, karena Allah berfirman:
 “dan kedua kakimu hingga dua mata kaki”. (Surah Al-Ma’idah : 6).
Yang dimaksud mata kaki adalah benjolan yang ada di sebelah bawah betis. Kedua mata kaki tersebut wajib dicuci berbarengan dengan kaki. Cara mencuci kaki adalah dimulai dari kaki kanan dulu sebanyak tiga kali baru kaki kiri sebanyak tiga kali. (Lihat Gambar. 8).
  
1   Orang yang tangan atau kakinya terpotong, maka ia mencuci bagian yang tersisa yang wajib dicuci. (Lihat Gambar. 9). Dan apabila tangan atau kakinya itu terpotong semua maka cukup mencuci bagian ujungnya saja.
1  Setelah selesai berwudhu mengucapkan do’a sebagaimana yang diajarkan Nabi berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Umar, katanya, “Berkata Rasulullah, ‘Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu dan meyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Asyhadu allaa ilaaha illallooh wahdahulaa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh
“Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan Allah”.
Melainkan dibukakan untuknya delapan pintu syurga, ia dapat masuk dari mana saja yang ia kehendaki”(H.R. Muslim).
Boleh ditambah dengan :
 اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ.
Allohummaj ‘alnii minattawwaabiina waj’alnii minal mutathohhiriin
 “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang bertobat dan jadikanlah aku sebagai bagian dari orang-orang yang bersuci”.( dalam riwayat At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al Irwa (96) )
1    Ketika berwudhu wajib mencuci anggota-anggota wudhunya secara berurutan, tidak menunda pencucian salah satunya hingga yang sebelumnya kering. 
1      Boleh mengelap anggota-anggota wudhu seusai berwudhu.
Maroji’
1.     Sifat wudhu Nabi , Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin.
2.     Beberapa pelajaran penting untuk segenap ummat, syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh Bin Baz.
3.     Dan beberapa sumber yang lain.
Dan untuk lebih jelas dapat dilihat  gambarnya dibawah ini :
 
 
 
 
 
 
Demikianlah Gambar Tata Cara Berwudhu Sesuai Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.
(Silahkan amalkan dan sebarkan. Jazakallah)

Cara Berwudhu'

Jikalau anda hendak mengerjakan shalat anda diwajibkan untuk berwudhu terlebuh dahulu karena dengan berwudhu anda akan membersihkan kotoran yang ada di tubuh anda, dan tentunya membersihkan dari najis yang ada di tubuh kita sehingga waktu kita mengerjakan shalat kondisi kita dalam keadaan suci, dan langsung saja mari kita simak cara berwudhu yang benar dibawah ini
Cara Mengerjakan Wudhu ialah :
cara berwudhu‘
1. Membaca ” BISMILLAAHIR-RAH-MAANIR-RAHIIM”, sambil mencuci kedua belah tangan sampai gelang tangan hingga bersih
cara berwudhu

2. Selesai membersihkan tangan terus berkumur 3x (tiga kali), sambil membersihkan gigi hingga bersih agar tidak ada bekas makanan yang ada di gigi
cara berwudhu
3. selesai berkumur anda harus mencuci lubang hidung 3x (tiga kali)
cara berwudhu

4. jika anda telah selesai hidung sebanyak tiga kali,  lalu anda diwajibkan untuk mencuci muka sebanyak 3x , mulai dari tempat tumbuhnya rambut atau dahi, sampai dengan dagu, dan juga telinga kanan dan telinga kiri , sambil membaca niat wudhu seperti dibawah ini
doa wudhu

Nawaitul wudhuu’a li raf’il-hadatsil-ashghari fardhal lillaahi ta’aalaa
          ” Aku niat berwudhu untuk mengilangkan hadast kecil, fardhu karena Allah”

wudhu5

5. jika sudah selesai membasuh muka ( mencuci muka ) lalu anda harus mencuci/membasuh kedua tangan anda hingga siku-siku anda sampai tiga kali
wudhu6

6. setelah selesai mencuci kedua belah tangan , anda harus menyapu sebagian rambut kepala sebanyak tiga kali lagi
cara berwudhu

7. dan jika anda sudah selesai menyapu sebagian rambut kepala anda harus menyapu kedua belah telinga sebanyak tiga kali
cara berwudhuD
*. dan yang terakhir anda harus mencuci kedua belah kaki hingga tiga kali, dari lutut sampai mata kaki
Keterangan :
Dalam melaksanakan wudhu anda harus melaksanakannya dengan berturut-turutan, artinya yang dahulu didahulukan dan yang akhir harus diakhirkan

Rabu, 11 Juni 2014

Albaqiyatush Shalihat

Al baaqiyaatush shaalihat terdiri atas kalimat
1. Tasbih : Subhaanallah
2. Tahmid : Alhamdulillah
3. Takbir : Allahu akbar
4. Hauqqalah : Laa hawla walaa quwwata illaa billaahil ’aliyyil ’azhiim

Kalimat-kalimat tersebut merupakan bagian dari perbendaharaan surga. Pembaca mendapatkan fadilah kandungan kalimat Al-Baqiyatush shalihat mungkin.

Fadillah Al Bqqiyatush sholihat

Rasulullah saw. Menjelaskan fadilah bagi pembaca al-Baqiyatush shalihat,
diantaranya :
1. Dicintai Allah swt.
2. Dicintai Rasulullah saw.
3. Dilindungi malaikat.
4. Dimintakan ampunan oleh malaikat kepada Allah swt.
5. diberikan pahala satu pohon di surga.

Pahala Al Bqqiyatush sholihat

Rasulullah saw. juga menerangkan, pembaca salah satu atau beberapa kalimat yang termasuk dalam kalimat Al-Baqiyatush Shalihat secara terpisah, tetap akan mendapatkan fadilah, di antaranya :
  1. Pahala tasbih mengisi separuh timbangan, hamdalah memenuhi timbangan dan takbir memenuhi antara langit dan bumi.
  2. Membaca tasbih, tahmid atau takbir adalah sedekah.
  3. Jika membaca tasbih, takbir atau tahlil maka Allah swt. menghapuskan 25  kejahatan.
  4. Jika membaca hamdalah, maka Allah swt.menghapuskan 30 kejahatan.
  5.  Pembaca Subhaanallaahi wa bihamdihii sebanyak 100 kali dalam satu hari diampuni dosanya dan dituliskan 1000 kebajikanbaginya.
  6.  Jika membaca Subhaanallaahi wa bihamdihii,subhaanallaahil ‘âzhiim. maka memberatkan timbangan amal dan disayangi Allah yang Maha Penyayang.
  7. Membaca hauqqalah, sama dengan mendapatkan obat untuk 99 macam penyakit, atau paling sedikit mendapatkan ketenangan hati.
  8.  Bagi pembaca, Laa ilaaha illallaah wahdahuu laa syarikalah, lahulmulku walahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syainqadiir sebanyak 10 kali, maka Allah swt membukakan pintu langit untuknya, memperkenankan permintaannya dan menghapuskan keburukannya.
  9.  Jika membaca, Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syarikalah, lahulmulku walahul hamdu yuhyii wayumiitu wahuwal hayyuladzii laayamuutu biyadihilkhairu wahuwa âalaa kulli syay inqadiir. Niscaya Allah sat. memasukkannya ke dalam surga Naâim.

Rukun Ihsan

Pendahuluan

Ihsan (bahasa Arab: احسان) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti "kesempurnaan" atau "terbaik". Dalam istilah agama Islam, Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

Ihsan adalah lawan dari isa'ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.

Hadits yang berkenaan tentang ihsan dikeluarkan di dalam Shahih Muslim dari Umar bin Khattab dan dua riwayat dari Abu Hurairah pada Shahihain. Bunyi teks berdasarkan hadist riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra. adalah:

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Pada suatu hari, Rasulullah SAW muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seseorang dan berkata: "Wahai Rasulullah, apakah Iman itu?". Rasulullah SAW bersabda: "Yaitu engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, para utusan-Nya, dan beriman kepada Hari Kebangkitan akhir".

Orang itu bertanya lagi: "Wahai Rasulullah, apakah Islam itu?". Rasulullah SAW bersabda: "Islam, yaitu engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan salat fardhu, memberikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadhan".

Orang itu kembali bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu?". Rasulullah SAW bersabda: "Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu".

Orang itu bertanya lagi: "Wahai Rasulullah, kapankah Hari Kiamat itu?". Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang menanya. Apabila ada budak perempuan melahirkan majikannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila ada orang yang semula miskin menjadi pimpinan manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila orang-orang yang tadinya menggembalakan ternak saling berlomba memperindah bangunan, maka itu termasuk di antara tandanya. Ada lima hal yang hanya diketahui oleh Allah".

Kemudian Rasulullah SAW membaca Surat Luqman ayat 34: "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya saja lah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".

Kemudian orang itu berlalu. Lalu Rasulullah SAW bersabda: "Panggillah orang itu kembali!". Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat sesuatu pun. Maka Rasulullah SAW bersabda: "Itu tadi adalah Jibril, yang datang untuk mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka".

Ruangan Lingkup Ihsan

Ihsan terbagi menjadi dua macam:
  1. Ihsan di dalam beribadah kepada Sang Pencipta (Al-Khaliq)
  2. Ihsan kepada makhluk ciptaan Allah

Ihsan di dalam beribadah kepada Allah

Ihsan di dalam beribadah kepada Al-khaliq memiliki dua tingkatan[2]:
  1. Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, ini adalah ibadah dari seseorang yang mengharapkan rahmat dan ampunan-Nya. Dan keadaan ini merupakan tingkatan ihsan yang paling tinggi, karena dia berangkat dari sikap membutuhkan, harapan dan kerinduan. Dia menuju dan berupaya mendekatkan diri kepada-Nya.
  2. Jika kamu tidak mampu beribadah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu, dan ini ibadah dari seseorang yang lari dari adzab dan siksanya. Dan hal ini lebih rendah tingkatannya daripada tingkatan yang pertama, karena sikap ihsannya didorong dari rasa diawasi, takut akan hukuman.
Maka suatu ibadah dibangun atas dua hal ini, puncak kecintaan dan kerendahan, maka pelakunya akan menjadi orang yang ikhlas kepada Allah. Dengan ibadah yang seperti itu seseorang tidak akan bermaksud supaya di lihat orang (riya'), di dengar orang (sum'ah) maupun menginginkan pujian dari orang atas ibadahnya tersebut. Tidak peduli ibadahnya itu nampak oleh orang maupun tidak diketahui orang, sama saja kualitas kebagusan ibadahnya. Muhsinin (seseorang yang berbuat ihsan) akan selalu membaguskan ibadahnya disetiap keadaan.

Ihsan kepada makhluk ciptaan Allah

Berbuat ihsan kepada makhluk ciptaan Allah dalam empat hal, yaitu[3]:
  • Harta
Yaitu dengan cara berinfak, bersedekah dan mengeluarkan zakat. Jenis perbuatan ihsan dengan harta yang paling mulia adalah mengeluarkan zakat karena dia termasuk di dalam Rukun Islam. Kemudian juga nafkah yang wajib diberikan kepada orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya seperti istri, anak, orang-tua, dll. Kemudian sedekah bagi orang miskin dan orang yang membutuhkan lainnya.
  • Kedudukan
Manusia itu bertingkat-tingkat jabatannya. Sehingga apabila dia memiliki kedudukan yang berwenang maka digunakannya untuk membantu orang lain dalam hal menolak bahaya ataupun memberikan manfaat kepada orang lain dengan kekusaannya tersebut.
  • Ilmu
Yakni memberikan ilmu bermanfaat yang diketahuinya kepada orang lain, dengan cara mengajarkannya.
  • Badan
Yakni menolong seseorang dengan tenaganya. membawakan barang-barang orang yang keberatan, mengantarkan orang untuk menunjukan jalan, dan ini termasuk bentuk sedekah dan bentuk ihsan kepada makhluk Tuhan.

Sumber : wikipedia.org

Rukun Islam Kelima

Pendahuluan

Haji adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, shalat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu.

Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10 Dzulhijjah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul Adha sebagai Hari Raya Haji karena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini.
Definsi Haji
 
Arti Haji

Secara lughawi, haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja. Menurut istilah syara’, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Yang dimaksud dengan temat-tempat tertentu dalam definisi diatas, selain Ka’bah dan Mas’a(tempat sa’i), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.

Latar Belakang Ibadah Haji

Orang-orang Arab pada zaman jahiliah telah mengenal ibadah haji ini yang mereka warisi dari nenek moyang terdahulu dengan melakukan perubahan disana-sini. Akan tetapi, bentuk umum pelaksanaannya masih tetap ada, seperti thawaf, sa’i, wukuf, dan melontar jumrah. Hanya saja pelaksanaannya banyak yang tidak sesuai lagi dengan syariat yang sebenarnya. Untuk itu, Islam datang dan memperbaiki segi-segi yang salah dan tetap menjalankan apa-apa yang telah sesuai dengan petunjuk syara’ (syariat), sebagaimana yang diatur dalam al-Qur’an dan sunnah rasul. Latar belakang ibadah haji ini juga didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh nabi-nabi dalam agama Islam, terutama nabi Ibrahim (nabinya agama Tauhid). Ritual thawaf didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh umat-umat sebelum nabi Ibarahim. Ritual sa’i, yakni berlari antara bukit Shafa dan Marwah (daerah agak tinggi di sekitar Ka’bah yang sudah menjadi satu kesatuan Masjid Al Haram, Makkah), juga didasarkan untuk mengenang ritual istri kedua nabi Ibrahim ketika mencari susu untuk anaknya nabi Ismail. Sementara wukuf di Arafah adalah ritual untuk mengenang tempat bertemunya nabi Adam dan Siti Hawa di muka bumi, yaitu asal mula dari kelahiran seluruh umat manusia.

JenisIbadah Haji

Setiap jamaah bebas untuk memilih jenis ibadah haji yang ingin dilaksanakannya. Rasulullah SAW memberi kebebasan dalam hal itu, sebagaimana terlihat dalam hadis berikut. Aisyah RA berkata: Kami berangkat beribadah bersama Rasulullah SAW dalam tahun hajjatul wada. Diantara kami ada yang berihram, untuk haji dan umrah dan ada pula yang berihram untuk haji. Orang yang berihram untuk umrah ber-tahallul ketika telah berada di Baitullah. Sedang orang yang berihram untuk haji jika ia mengumpulkan haji dan umrah. Maka ia tidak melakukan tahallul sampai dengan selesai dari nahar.

Berikut adalah jenis dan pengertian haji yang dimaksud.

Haji ifrad, berarti menyendiri. Pelaksanaan ibadah haji disebut ifrad bila sesorang bermaksud menyendirikan, baik menyendirikan haji maupun menyendirikan umrah. Dalam hal ini, yang didahulukan adalah ibadah haji. Artinya, ketika mengenakan pakaian ihram di miqat-nya, orang tersebut berniat melaksanakan ibadah haji dahulu. Apabila ibadah haji sudah selesai, maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan umrah.

Haji tamattu’, mempunyai arti bersenang-senang atau bersantai-santai dengan melakukan umrah terlebih dahulu di bulan-bulah haji, lain bertahallul. Kemudian mengenakan pakaian ihram lagi untuk melaksanakan ibadah haji, ditahun yang sama. Tamattu’ dapat juga berarti melaksanakan ibadah didalam bulan-bulan serta didalam tahun yang sama, tanpa terlebih dahulu pulang ke negeri asal.
Haji qiran, mengandung arti menggabungkan, menyatukan atau menyekaliguskan. Yang dimaksud disini adalah menyatukan atau menyekaliguskan berihram untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Haji qiran dilakukan dengan tetap berpakaian ihram sejak miqat makani dan melaksanakan semua rukun dan wajib haji sampai selesai, meskipun mungkin akan memakan waktu lama. Menurut Abu Hanifah, melaksanakan haji qiran, berarti melakukan dua thawaf dan dua sa’i.

Kegiatan ibadah haji

Berikut adalah kegiatan utama dalam ibadah haji berdasarkan urutan waktu:
1.      Sebelum 8 Dzulhijjah, umat Islam dari seluruh dunia mulai berbondong untuk melaksanakan Tawaf Haji di Masjid Al Haram, Makkah.
2.      8 Dzulhijjah, jamaah haji harus bermalam di Mina. Sebelumnyanya pada pagi 8 Dzulhijjah, semua umat Islam memakai pakaian Ihram (dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian haji), kemudian berniat haji, dan membaca bacaan Talbiyah. Pagi hari tanggal 8 Dzulhijjah, jamaah menuju Mina. Malam harinya, semua jamaah haji harus bermalam di Mina.
3.      9 Dzulhijjah, pagi harinya semua jamaah haji pergi ke Arafah. Kemudian jamaah melaksanakan ibadah Wukuf, yaitu berdiam diri dan berdoa di padang luas ini hingga Maghrib datang. Ketika malam datang, jamaah segera menuju dan bermalam Muzdalifah.
4.      10 Dzulhijjah, setelah pagi di Muzdalifah, jamaah segera menuju Mina untuk melaksanakan ibadah Jumrah Aqabah, yaitu melempar batu sebanyak tujuh kali ke tugu pertama sebagai simbolisasi mengusir setan. Setelah mencukur rambut atau sebagian rambut, jamaah bisa Tawaf Haji (menyelesaikan Haji), atau bermalam di Mina dan melaksanakan jumrah sambungan (Ula dan Wustha).
5.      11 Dzulhijjah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
6.      12 Dzulhijjah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga. Sebelum pulang ke negara masing-masing, jamaah melaksanakan Thawaf Wada’ (thawaf perpisahan).

Lokasi utama ibadah Haji

Makkah Al Mukaromah

Di kota inilah berdiri pusat ibadah umat Islam sedunia, Ka’bah, yang berada di pusat Masjidil Haram. Dalam ritual haji, Makkah menjadi tempat pembuka dan penutup ibadah ini ketika jamaah diwajibkan melaksanakan niat dan thawaf haji.

Arafah

Kota di sebelah timur Makkah ini juga dikenal sebagai tempat pusatnya haji, yiatu tempat wukuf dilaksanakan, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah tiap tahunnya. Daerah berbentuk padang luas ini adalah tempat berkumpulnya sekitar dua juta jamaah haji dari seluruh dunia. Di luar musim haji, daerah ini tidak dipakai.

Mina

Tempat berdirinya tugu jumrah, yaitu tempat pelaksanaan kegiatan melontarkan batu ke tugu jumrah sebagai simbolisasi tindakan nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Dimasing-maising tempat itu berdiri tugu yang digunakan untuk pelaksanaan: Jumrah Aqabah, Jumrah Ula, dan Jumrah Wustha. Di tempat ini jamaah juga diwajibkan untuk menginap satu malam.

Muzdalifah

Tempat di dekat Mina dan Arafah, dikenal sebagai tempat jamaah haji melakukan Mabit (Bermalam) dan mengumpulkan bebatuan untuk melaksanakan ibadah jumrah di Mina.

Madinah

Adalah kota suci kedua umat Islam. Di tempat inilah panutan umat Islam, Nabi Muhammad SAW dimakamkan di Masjid Nabawi. Tempat ini sebenarnya tidak masuk ke dalam ritual ibadah haji, namun jamaah haji dari seluruh dunia biasanya menyempatkan diri berkunjung ke kota yang letaknya kurang lebih 330 km (450 km melalui transportasi darat) utara Makkah ini untuk berziarah dan melaksanakan salat di masjidnya Nabi. Lihat foto-foto keadaan dan kegiatan dalam masjid ini.

sumber : id.wikipedia
 

About

Sample Text